Di dalam kopaja yang panas dan tidak begitu banyak penumpang mereka pun menarik nafas panjang. Keringat campur debu jalanan, melekat diseluruh tubuh mereka, bau keringat dan daki melunturkan aroma colonete yang mereka pakai.
Joko : duh udah bau nih.
Komar : ya ni, jadi tidak pdnya aku.
Thomas : ah sama saja. Mau wangi mau keringat, tetap saja bau, bedanya antara satu bau yang disukai dan yang satu bau yang disukainya pada saat-saat tertentu.
Komar : bah kapan orang suka bau ketiak kau itu, ada-ada saja.
Joko : sudah-sudah terus enaknya ngapain nih.
Komar : setelah baca buku tadi, ubah lah penampilan kita, agar tampak kelihatan hebat.
Joko : duitku sudah tipis, buat penampilan kan mahal.
Thomas : ah tak perlu mahal. Kita cari saja yang bekas-bekas di senen atau di mester, kan yang penting rapi. Kita kasih pemitih, kita setlika dan sepatu kita semir. Pasti tampak jreng.
Komar : bah bagus kali ide mu itu. Yang penting kan penampilan. Mau baru atau bekas, yang penting penampilan.
Ketiga mahasiswa joko, komar dan thomas (JKT) pun turun di senen. Lalu bergegas menyambangi pusat baju bekas di Senen. Karena kebodohan, kurang pengalaman dan karena keudikan mereka ini, terkadang manimbulkan kelucuan-kelucuan yang tidak disengaja.
Komar : hai bang, berapa kau jual pakaian ini?
Pedagang 1 : 20rb bang, sudah murah ni baju buat abang.
Komar : bah mahal kali ni baju.
Thomas : kau mau jualan apa malak kami, masak baju bekas harganya 20rb.
Joko : alah baju boleh nyolong di jemuran aja, dijual mahal.
Pedagang : hai jaga mulut kau, atau ku patahkan leher kau. (sambil mengeluarkan celurit) pergi.....
Joko : waduh (ketakutan)
Komar : sabar bang sabar.
Pedagang : taruh tuh baju taruh, atau ku libas kau.
Thomas : iya bang iya ku taruh ni bang kutaruh.
Joko Komar dan Thomas pun cepat-cepat meninggalkan pedagang yang naik pitam sampai mengeluarkan clurit, gara-gara ulah mereka.
Thomas : jaga mulut kalian, hampir saja putus leher ini dibuatnya.
Joko : ah kau tampang preman Ambon, hati hello kitty. Main bekel aja kau atau main karet bareng adik gw.
Thomas : ah gini-gini kan masih mempan clurit.
Komar : sudah-sudah di sana tuh ada yang bagus lagi, kita lihat yuk.
Satu dua jam mereka pun memilih-milih baju, dasi, celana panjang dan sepatu yang kiranya cocok dengan penampilan mereka, penuh kelucuan karena tingkah laku mereka yang terkadang membuat para pedagang sedikit jengkel terhadap mereka. Sesampainya di kos-kosan mereka pun membersihkan, mensetrika dan menyemir barang-barang yang mereka beli tadi menjadi tampak baru kembali.
Joko : nih lihat baju gw. Kelihatan baru.
Thomas : ah mantap juga ni sepatu.
Komar : dasi ini, gaya ku seperti direktur. Pasti cewe-cewek nanti terpana melihat penampilan ku.
Joko : baju rapi celana panjang ikat pinggang berdasi tak lupa pakai sepatu pantopel mengkilat, tapi duit goceng di dombet.
Komar thomas : hahhaha......wkwkwkwkwk..
Komar : betul itu, yang penting penampilan, supaya dihargai orang.
Di pagi yang cerah mereka pun terbangun.
karena IQnya yang jongkok dan IPK mereka yang rendah, membuat mereka tidak diperkenankan untuk mengambil mata kuliah yang banyak.
Komar : nih dah siapa aku, lihat penampilan ku, dasi, hem lengan panjang, ikat pinggang dan sepatu yang mengkilat.
Thomas : hadih tampang preman ku hilang
Joko : setiap perjuangan butuh pengorbanan bung, nanti kalo kau sudah kaya, pakai apapun kau boleh.
Komar : lihat nih baju gw, dah rapi kan?
Joko : beres. Kalo gw.
Thomas : cuman gigi kau saja yang tidak beres.
Joko : rambut kau tuh yg kayak rambut ketiak ku.
Setelah rapi berpakaian dan menata rambut mereka, pergilah mereka untuk melamar pekerjaan. Dengan penuh semangat perjuangan pun dimulai hari ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
terima kasih